Mengaggungkan Sunnah

Untaian Mutiara Atsar Salafush Shalih

Allah ta’ala berfirman,
Dan tidaklah patut bagi orang beriman laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan rasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata“(al-ahzab:36)

Barangsiapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah..“(an-Nisa:80)

Sungguh telah ada pada diri rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah“(al-ahzab:21)

“..Dan jikalau kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas” (an-Nur:54)

Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih“(an-Nur:63)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suaru nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari” (al Hujurat:2)

Mengomentari ayat ini, Ibnul Qayyim berkata:
“Allah memberikan peringatan kepada kaum mukminin akan gugurnya amalan mereka lantaran berkata kepada rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan suara keras sebagaimana sebagian mereka mengeraskan suara terhadap sebagian lain. Kesalahan ini bukanlah suatu perbuatan riddah (yang menyebabkan pelakunnya keluar dari Islam) namun hanyalah kemaksiatan yang dapat menggugurkan amalan tanpa disadari oleh pelakunya”

Masih dalam perkataan beliau,
“Jika dikatakan, “bagaimana bisa amal-perbuatan gugur karena (perbuatan dosa) yang bukan riddah?” Dapat kita jawab: Ya, AlQuran, asSunnah dan atsar yang dinukil dari para sahabat menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan buruk (dosa dan maksiat) dapat menggugurkan kebaikan-kebaikan sebagaimana kebaikan itu menghapuskan keburukan.

Allah berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)” (al-baqoroh:264)

‘Aisyah radhiallahu’anha berkata kepada Ummu Zaid bin Arqam:
“Beritahukan kepada Zaid bahwasannya ia telah membatalkan (menggugurkan pahala) jihadnya bersama rasulullah kecuali ia mau bertaubat (ketika Zaid melakukan jual beli dengan jual beli ‘iinnah)”

Ayat-ayat mengenai muwazanah (yang menyebut dua hal yang berlawanan hingga jadi berimbang) dalam alQuran menguatkan kesimpulan ini, jadi sebagaimana amal buruk itu dihapuskan dengan kebaikan yang lebih besar maka begitu pula pahala amal baik dapat gugur karena kejelekan yang lebih besar”
[Selesai perkataan Ibnul Qayyim – Kitabush Shalat oleh Ibnul Qayyim hal. 65]

Bagaimana halnya dengan orang yang mendahulukan perkataan, pentunjuk dan jalan orang lain atas perkataan jalan dan petunjuk Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam.. ?!!

Bukankah orang yang berbuat demikian telah gugur pahala amalnya sedangkan ia tidak menyadarinya.. ?!!

Dari Irbadh bin Sariyah radhiallahu’anhu, ia berkata,
“(Pada suatu hari) rasulullah memberikan kami sebuah nasihat yang menjadikan hati-hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran, lalu kamipun mengatakn, “Wahai rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat seorang yang hendak berpisah meninggalkan kami, maka wasiatkan kepada kami”, lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) walau kalian dipimpin oleh seorang budak. Sesungguhkan barangsiapa di antara kalian hidup setelahku niscara ia akan menemukan banyak perselisihan, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa-ur rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah ia dengan gigi gerahammu. Dan waspadalah dari perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena setiap perbuatan bid’ah itu sesat” (HR.Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Abu Bakar ash-Shidiq radhiallahu’anhu mengatakan,
“Tidaklah aku meninggalkan suatu yang diamalkan oleh Rasulullah melainkan akupun mengamalkannya, aku takut tergelincir (sesat) apabila meninggalkan suatu perintahnya”

Mengomentari perkataan ini, Ibnu Baththah berkata: “Ini ash-Shidiq wahai saudara-saudara ku, beliau mengkhawatirkan dirinya tersesat apabila menyalahi suatu perintah nabiNya, maka apa yang terjadi dengan orang-orang yang hidup pada zaman di mana para penduduknya menghina nabi mereka dan perintah-perintahnya (sunnah dan ajaran2nya) serta mereka bangga menyelisihinya..?!!
Kita memohon kepada Allah keselamatan dari ketergelinciran dan dari perbuatan yang buruk” (Al-ibanah -1/246)

[Disalin dari buku Kewajiban Mengagungkan Sunnah]




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: