Bikin SIM (2)..

Kegagalan pada ujian tertulis kemarin membuat orang2 di sekitar saya agak menyesali keputusan saya dikarenakan saya ‘sok-sok an’ lewat jalur sehat. Saya pribadi melihat ini sebagai sebuah pengalaman sekaligus ingin menghilangkan rasa penasaran, apakah benar dipersulit? Karena waktu itu status saya pengangguran (setelah resign dari kantor lama awal maret), pastinya akan tersedia banyak waktu untuk mengikuti proses tersebut. Jadi kalo pun dipersulit, ya ikuti saja..

Dari cerita2 yang saya dengar baik dari my dad, my brother, dan beberapa teman, proses dengan cara sehat (mengikuti sesuai prosedur yang ada) memang akan dipersulit. Mereka (orang2 polda) akan berusaha mengarahkan kita ke cara instan dengan biaya yang lebih mahal (katanya..). Karena itu mereka mendapatkan SIM dengan biaya sekitar 500rb alias nembak. Sepupu saya sendiri harus rela bolak balik ikut ujian tertulis sampai 5 kali demi mengikuti proses sesuai dengan prosedur (sampe akhirnya ia menyerah di ujian praktek..)

Jadinya, kegagalan saya semakin membenarkan dugaan mereka kalau proses membuat SIM itu dipersulit.. hmm.. sedangkan saya sendiri tidak merasa adanya ‘permainan’ yang dilakukan oleh orang2 di sana karena memang saya belum ada persiapan sama sekali menghadapi tes tersebut. So, kegagalan itu saya anggap adalah sesuatu yang wajar..

Sepulangnya dari sana, mumpung masih hangat di kepala, saya langsung googling mencari informasi dan sumber2 bacaan sebagai bahan persiapan untuk menghadapi tes tertulis 2 minggu nanti, dan inilah sumber yg saya pilih  http://www.scribd.com/doc/6424505/rambumarkajalan.. *silakan anda bisa mencari sendiri dengan menggunakan keyword ‘marka jalan’, ‘lalu lintas’, ‘ujian SIM’, dll..

Oia, dari soal2 yang ada kemarin, bisa saya bagi soal tersebut menjadi 2 jenis soal, analisis dan hapalan. Hapalan seperti arti gambar rambu lalu lintas, batas beban yang dibolehkan dijalan, dll (yang menurut saya, sebagiannya sangat tidak penting..). Sedangkan analisa, seperti kendaraan mana yang mendapat prioritas jalan jika ada perempatan, dll.

Akhirnya waktu itu tiba,
17Maret2011

Berangkat jam setengah11an. Sampai sana jam 11an lewat. Langsung menuju ruang ujian tertulis. Beruntung, saya datang sesaat sebelum mulai jadi ga perlu nunggu lagi.. Kali ini saya dengan lancar menjawab soal2 tersebut. Ada beberapa soal hapalan yg saya tidak tau, sedangkan analisis cukup pake logika ‘kira2’ saja. Walhasil, 5 menit sebelum waktu habis, saya sudah selesai..

Kembali saya harus menunggu hasil tes tersebut di loket 5. Dalam masa penantian itu (alah bahasanya), datang seorang pria setengah baya, “Ini loket 5 ya mas?”. Sekilas bisa diketahui kalau pria itu adalah warga keturunan Arab.
Kami pun menunggu hasil tes tersebut. Sambil menunggu, kami berbasa basi. Ternyata, beliau adalah alumni IPB juga tp jurusan TPG angkatan 26. Saya jadi merasa muda..😀
Namanya bpk Faruq, seorang pengusaha kelapa sawit yang tengah bangkit dari kegagalannya bersama rekan2nya. Saya sesekali bertanya kepadanya, alasan keluar dari perusahaan, mengapa memilih berbisnis, dll. Sesekali, saya juga mengamati mereka yang sudah dipanggil namanya. Banyak raut wajah kecewa yang menandakan ia tidak lulus.. Di tengah masa penantian itu, nama saya dipanggil. Saya merasa hasilnya pasti memuaskan, yah 25 soallah bisa, insyaAllah..
Sampai diloket, si mbak2 loket dengan senyum menggoda bertanya, “Ayoo kira2 lulus ga?”.. “ga tau mbak, tp kyknya lulus”.. “Selamat yah” ucap mbak2 loket sambil menyerahkan kertas registrasi saya.. YEAH, SAYA LULUS! Alhamdulillah, ga sampe berkali-kali tes tertulisnya..😀
Ada tanda ‘tidak lulus’ yang dicoret dan angka 19 di kertas ijo itu.. Senang tapi agak kecewa juga.. “masa’ cuma 19??” sesal saya dalam hati.. yaah yang penting lulus lah, ga penting jumlah yang benar.. hehe..

Saya kembali ke tempat duduk semula, dan menunggu hasil bpk Faruq. Beliau tampak yakin dengan jawaban tesnya. “Minimal 20 lah” jawabnya begitu saya tanya perkiraan jawaban yg benar. Tidak berselang lama, namanya dipanggil. Dari kejauhan saya amati, ada perbincangan serius antaranya dengan petugas loket setelah menerima hasil tes. Bisa saya tebak, pasti gagal. Benar juga, ia memberitahukan cuma 16 soal yg bisa dijawab dg benar. Tampak kekecewaan di raut wajahnya.. Kami pun berpisah. Saya menuju tempat ujian praktek, beliau ke ruang 37, ruang penilaian tes tertulis tersebut.. entah mau apa ke sana..

Singkatnya, saya telah berada di dalam kendaraan setelah sebelumnya membayar 10rb untuk ujian praktek (berarti sudah 190rb rupiah uang yang sudah saya keluarkan). Sang instruktur kemudian menjelaskan tes2 yang harus dilewati. Ada 5 tes.

  1. Maju mundur sejauh kira2 100m
  2. jalan maju zigzag
  3. jalan mundur zigzag
  4. parkir mundur sekali jalan
  5. parkir paralel

Di kiri kanan ada batas jalan berupa patokan kayu setinggi kira2 50cm. Syarat kelulusan adalah tidak mengenai patokan kayu tersebut dan sekali jalan.

Setelah sang instruktur mempraktikan, tiba giliran saya. Sesaat sebelum maju, saya sudah kena ‘omel’. Saya tidak ngeh kalau sabuk pengaman harus di pasang dulu. Setelah terpasang, saya bersiap meng-gas kendaraan, eh kena ‘omel’ lagi. Kali ini rem tangan yang belum saya buka.. walaah.. saya jadi grogi. Hasilnya, di tes pertama sudah kena beberapa patokan. Tes kedua juga begitu. Tes ketiga dilewatkan. Tes ke empat harus maju mundur dulu, ga bisa langsung sekali masuk. Tes kelima dilewatkan. Huff, dah dipastikan gagal deh..

Sang instruktur yang dari tadi ‘ngomel’ (ga tau saya salah apa diomelin mulu), seolah-olah membuka penawaran tersirat kepada saya. Dari tes pertama pun.. mm bukan, malah sebelum tes pun sudah mengancam ‘ga lulus’. Kata2 itu sering saya dengar ketika menjalani tes, ancaman ga lulus.. Tentunya hal itu membuat orang tambah grogi (saya nya aja kali ya). Sebenarnya, ketika tes pertama sudah mengenai patokan, saya sudah nyerah.. “ngulang deh” sesal saya begitu kendaraan mengenai patokan pertama kali. Saya mendengar dari sepupu, katanya kalo kena sekali saja bisa dipastikan ga lulus. Karena itu, saya langsung ga minat untuk meneruskan tes berikutnya. Dan begitu ada penawaran tersirat (dengan cara mengancam ga lulus), saya ga peduli, karena saya sudah berniat untuk ngulang 2 minggu lagi..

Dengan begitu, saya pun harus mengulang 2 minggu lagi, yaitu tanggal 31 maret..

ini tkp nya,
Yang ada puterannya itu adalah untuk tes motor, sedangkan mobil diseberangnya yang ada tulisan A..

-bersambung-


  1. Mas, kalo soal kendaraan yg diprioritaskan itu, gimana ya?
    Saya pake analisa saya, tapi kayaknya ga pas deh.
    Saya udah nanya ke 5 orang dan jawabannya beda2, yg benernya kyk gimana sih?




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: