Siroh Nabawiyyah.. (1)

Sudah 3 bulan saya membaca terjemahan Siroh Nabawiyyah yang ditulis oleh Muhammad Ridho dari Mesir, tp sampai sekarang belum selesai juga.  Yah cuma sehalaman dua halaman tiap harinya atau malah dianggurin, gmn mo cepet tamat?? dan baru kemarin2 ini saya mulai intens membacanya, walhasil kira2 ‘tinggal’ seperlima lagi bakal habis.

Buku itu saya beli waktu ada pameran buku di Senayan awal oktober seharga 75rb rupiah. Dengan tebal hampir 1000 halaman tentu harga tadi termasuk murah, malah bisa dibilang murah sekali. Mau tau harga aslinya? Seingat saya harga aslinya lebih dari 200rb an. Sayang kan kalo ga dibeli..🙂
Hmm kalo saya amati, ternyata bukunya pun juga tidak asli alias kopian.. hiks hiks.. baru sadar belakangan..
Ya sudahlah, yang penting isinya tetep asli.. hehe..
Nah, dari buku ini, banyak sekali cerita menarik dan mengagumkan yang membuat saya takjub geleng2 kepala. Super sekali! Mungkin begitu kira2 kata bpk Mario Teguh. Dan sepertinya sayang sekali kalau kisah perjalanan Rasulullah Muhammad shollallahu’alaihi wasallam yang sedang saya baca ini cuma saya yang menikmati. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari sana. Oleh karena itu, saya akan mencoba mengambil adegan2 yang saya anggap menarik dari buku tersebut untuk saya posting di sini. Hmm.. sebenarnya, setiap halaman dari buku itu adalah cerita menarik dan pelajaran bagi kita semua, tapi karena keterbasan waktu (ga mau dibilang males :p) hanya sebagian yang bisa saya posting..
Okeh, langsung saja..

Hal 202..
Ini terjadi setelah Allah Ta’ala menyuruh Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam berdakwah secara terang-terangan, dan baru sedikit yang masuk Islam di antaranya, Khadijah istri beliau, Ali bin Abi Thalib sepupu beliau, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah, Bilal, Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abu Waqqash, dan Thalhah bin Ubaidullah..


Kaum Quraisy berdialog dengan Abu Thalib tentang Rasulullah

Dialog Pertama
Ketika kaum Quraisy melihat bahwa Abu Thalib selalu membela Nabi dan tidak mau menyerahkan beliau kepada mereka, maka beberapa orang tokoh mereka datang kepadanya. Mereka adalah Utbah dan Syaibah, keduanya putra Rabi’ah.
Mereka berkata: “Hai Abu Thalib, sesungguhnya kemenakanmu telah mencela sesembahan-sesembahan kami, mengejek agama kami, dan membodoh-bodohkan orang-orang pandai kami, serta menganggap sesat nenek moyang kami. Oleh karena itu, cegahlah dia dari mengganggu kami atau biarkan kami bertindak terhadapnya. Toh kamu seperti kami juga, tidak sependapat dengan dia.”
Abu Thalib berkata kepada mereka secara baik-baik dan menolak permintaan mereka dengan halus; dan mereka pun pulang meninggalkannya. Sementara Rasulullah meneruskan dakwahnya. Inilah tuntutan mereka yang pertama. Mereka tidak berhasil melakukan apa pun, karena Rasulullah terus menyeru manusia supaya menyembah Allah, seperti biasanya.

Dialog kedua
Selanjutnya, tatkala orang-orang semakin renggang hubungannya dan saling mendengki, dan orang-orang Quraisy semakin banyak yang membincangkan Rasulullah, maka tokoh-tokoh mereka berpikir untuk menemui Abu Thalib sekali lagi, dan mengajukan tuntutan kepadanya. Mereka pun menemuinya, lalu berkata: “Hai Abu Thalib, sesungguhnya engkau adalah orang tua yang terhormat dan berkedudukan tinggi di mata kami. Sesungguhnya kami sangat berharap engakau menghentikan aksi kemenakanmu itu, namun ternyata engkau tidak melakukan apa pun. Demi Allah, sesungguhnya kami sudah tidak tahan lagi atas semua ini, yaitu dicaci-makinya sesembahan-sesembahan kami dan nenek moyang kami, dibodoh-bodohkannya orang-orang pandai kami. Jadi, cegahlah dia dari mengganggu kami, atau kami sendiri yang membereskannya dan juga membereskan kamu karena utusan ini. Biarlah salah satu dari dua kelompok akan hancur…” Atau, entah apa lagi yang mereka katakan, kemudian mereka pun pergi.

Itu artinya, bahwa kali ini mereka mengancam Abu Thalib dan menampakkan permusuhan. Oleh karena itu, dia pun merasa berat. Dia tidak ingin ditinggalkan dan dimusuhi kaumnya, tetapi dia juga tidak mau menyerahkan Rasulullah kepada mereka dan membiarkannya dikeroyok. Karenanya, dia kirim seseorang menemui Rasulullah untuk memberi tahu kepadanya apa yang dikatakan kaum Quraisy. Abu Thalib berpesan kepada beliau: “Pelihara dirimu dan diriku. Jangan bebani aku dengan hal yang aku tidak mampu memikulnya.”

Rasulullah mengira pamannya telah membiarkannya dan tidak mau membelanya lagi. Karena itu, beliau menegaskan kepadanya: “Wahai pamanku, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku supaya aku meninggalkan perkara ini, (niscaya aku tidak akan meninggalkannya) sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya”

Selanjutnya, Rasulullah menangis, lalu bangkit hendak pergi. Namun ketika beliau beranjak, tiba-tiba Abu Thalib memanggilnya, maka beliau datang memenuhi panggilan itu. “Pergilah, wahai kemenakanku. Katakanlah apa yang kamu suka. Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan menyerahkan dirimu karena alasan apa pun buat selama-lamanya”

Perhatikanlah, wahai pembaca, betapa kokoh pendirian Rasulullah, yakni betapa kokoh mental yang dimiliki beliau dalam menghadapi suatu bangsa yang memusuhinya, yang bersikap kasar terhadapnya. Alangkah kokohnya beliau berpegang pada prinsip yang menjadi pendiriannya, sampai sedemikian jauhnya.

Dialog Ketiga
Abu Thalib tidak henti-hentinya membela kemenakannya itu, demi menunaikan kewajibannya terhadap orang yang selama ini diasuhnya, berada dalam tanggungannya, dan tumbuh dirumahnya, di samping demi membela harga dirinya.
Namun demikian, Abu Thalib tidak juga mau masuk Islam. Dia tetap menganut agama aslinya. Oleh karena itu, tugasnya menjadi semakin berat dan posisinya serba sulit, karena dia harus menghadapi kaum Quraisy yang fanatik dengan agama mereka dan marah terhadap aksi Muhammad yang terus-menerus menyebarkan Islam dan memusuhi berhala-berhala mereka. Sementara itu, sebagai da’i, beliau tidak menjadi kendur dalam menunaikan tugasnya dikarenakan ejekan maupun penindasan dari siapa pun.

Ya, andai saja Abu Thalib masuk Islam, pembelaannya terhadap kemenakannya itu lebih agung dan argumentasinya lebih kuat dan mantap dalam menghadapi segenap bangsa Arab. Tapi sayang, dia tetap pada agama nenk moyangnya, meski dia tetap membela Rasulullah, yakni pembelaan bukan karena aqidah, tetapi sekedar menunaikan kewajibannya terhadap kerabat.
Kali ini orang-orang Quraisy sekali lagi menemui Abu Thalib dengan membawa serta seorang bernama Umarah bin Al-Walid. Mereka berkata: “Hai Abu Thalib, ini Umarah bin Al-Walid, seorang pemuda Quraisy. Dia adalah pemuda yang paling pandai bersyair dan paling tampan. Ambillah dia sebagai anakmu, dan serahkan kepada kami kemenakanmu itu, yang telah membodoh-bodohkan orang-orang pandai kami, dan melawan agamamu dan agama nenek moyangmu, serta memisahkan kesatuan kaummu. Biarkan kami membunuhnya. Jadi, kami beri kamu seorang, pengganti seorang”

“Demi Allah,” Jawab Abu Thalib, “betapa buruk apa yang akan kalian tawarkan kepadaku. Apakah kalian hendak memberikan anak kalian kepadaku supaya aku memberinya makan, sementara aku berikan kepada kalian anakku untuk kalian bunuh? Demi Allah, tidak mungkin aku lakukan itu.”
Maka Muth’im bin Adi bin Naufal bin ‘Abdu Manaf pun berkata: “Kaummu telah berlaku adil terhadapmu, tapi mengapa kulihat kamu tidak sudi menerima sesuatu dari mereka?”
“Demi Allah,” bantah Abu Thalib, “mereka tidak adil kepadaku. Tapi kamu telah sepakat dengan mereka untuk menghinaku dan menghasung mereka melawan aku. Karena itu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan!”

Siapapun yang berakal pasti bisa melihat bahwa apa yang ditawarkan kaum Quraisy kepada Abu Thalib amatlah bodoh. Tapi mereka memang sedang berupaya menyingkirkan pembawa dakwah itu dengan cara apa pun. Dan tatkala tidak punya harapan lagi tuntutan mereka dipenuhi, maka kaum Quraisy pun semakin ganas tindakannya terhadap siapa pun yang masuk Islam. Masing-masing kabilah Quraisy menyerbu kaum muslimin yang ada di kalangan mereka, menyiksa, dan membencanai mereka supaya keluar dari Islam. Sementara itu Abu Thalib mengajak seluruh Bani Hasyim untuk membela Rasulullah, dan mereka pun memenuhi ajakannya.




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: