Sheila..

Tak sengaja saya menemukan beberapa novel di kamar,  salah satunya adalah Sheila: Luka Hati seorang Gadis Kecil. Sekilas melihat, membuat saya penasaran untuk mengetahui lebih tentang novel tersebut. Bersampulkan wajah gadis kecil yang imut ditambah stiker merah yang bertuliskan ‘international bestseller terjual lebih dari 50.000 eks di Indonesia’ membuat rasa penasaran saya bertambah. Hmm, buku tentang psikologi anak rupanya..

Novel tersebut merupakan novel terbitan tahun 1980 dan pertama kali terbit di New York dengan judul asli ‘One Child’ yang langsung menjadi best seller pada saat itu. Novel ini merupakan catatan pribadi Torey Hayden mengenai muridnya dan kemudian menyadari bahwa tulisannya layak diterbitkan menjadi sebuah buku. Torey Hayden sendiri adalah salah seorang pakar psikologi anak dan guru bagi anak-anak khusus.
Oke, saya akan menceritakan sekilas isi novel tersebut.
Novel ini menceritakan pengalaman seorang guru (Torey Hayden) menangani salah seorang muridnya yang bernama Sheila. Sebelum kedatangan Sheila, Torey telah mendapatkan delapan anak di kelasnya dengan latar belakang gangguan yang berbeda beda. Kedelapan anak itu,

1 Peter, berusia 8 tahun yang benci sekolah, benci guru, dan memiliki sifat temperamental.
2 Tyler, seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang telah berusaha 2 kali bunuh diri.
3 Max, berusia 6 tahun yang menderita autisme. Dia suka berteriak, memekik, dan berputar-putar sambil mengepak-ngepakkan kedua tangannya.
4 Freddie, berusia 7 tahun dgn berat 47 kg (gendut kali ya) yang memiliki keterbelakangan mental yang parah. Dia berhenti menangis kalau diizinkan menjatuhkan diri ke lantai.
5 Sarah, berusia 7 tahun korban penyiksaan fisik dan seksual.
6 Susannah, gadis kecil yang cantik berusia 6 tahun. Ia mengalami halusinasi visual maupun auditorial, dan menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk menangis dan menggerak-gerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Dia jarang  berbicara, dan sekalinya berbicara, sering tidak ada artinya. Ia menderita skizofrenia.
7 William, mengalami berbagai fobia. Ia dihantui ketakutan air, kegelapan, mobil, alat penyedot debu, dan debu di bawah tempat tidurnya. Untuk melindungi dirinya, ia melakukan ritual yang rumit, membaca mantra-mantra pendek tanpa suara.
8 Guillermo, ia pemarah dan agresif, dan juga buta.

Bisa dibayangkan, bagaimana sulitnya mereka bisa berinteraksi dan menjalani proses belajar mengajar. Dengan kondisi seperti itu, Torey masih ‘dihadiahi’ seorang anak bermasalah berusia 6 tahun, Sheila.
Sebenarnya, si Sheila ini akan ditempatkan di rumah sakit negara karena ia telah melakukan tindak kriminal mengerikan, menculik seorang bocah laki-laki berusia 3 tahun, dan kemudian mengikatnya di sebuah hutan kecil, lalu membakarnya..sadis sekali..

Ia kemudian di tempatkan sementara di kelas Torey karena belum ada unit anak-anak di rumah sakit negara.Sheila adalah seorang anak yang emosional dan desktruktif. Ia akan menghancurkan apa saja kalau ada yang membuat dirinya marah walau hanya karena masalah sepele. Seiring berjalannya waktu, Torey melihat sisi positif pada gadis kecil ini. Ia menemukan potensi akademis yang luar biasa pada diri Sheila. Anak yang ditinggal ibunya ketika berusia 4 thn dan tinggal di perkampungan migran ini memiliki IQ 170an!! Luar biasa sekali.. Dari sana, Torey berusaha mendidiknya dan memberikan perhatian lebih, hingga akhirnya ia berusaha mempertahankan Sheila agar tidak ditempatkan di rumah sakit negara. Perjuangannya itu berhasil. Melalui pengadilan, Torey berhasil membujuk dan meyakinkan para pengadil kalau tindakannya menempatkan Sheila ke ‘penjara’ adalah kesalahan.

Setelah itu, Torey masih harus berjuang untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada Sheila hingga akhirnya Sheila mengalami kemajuan yang cukup cepat.
Karena suatu hal, kelas khusus yang ditangani Torey harus dibubarkan atau tidak ada lagi. Karena itu Torey memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di kota yang berbeda. Perpisahan dengan Sheila pun tak bisa dihindari. Perpisahan ini pada awalnya tidak diterima Sheila, hingga pada akhir novel, Sheila akhirnya menerima dengan berjanji akan menjadi anak baik. Sebelum itu, Torey menyarankan pihak sekolah agar menempatkan Sheila di kelas 3 dan dengan berbagai pertimbangan, mereka menyetujuinya.  Perpisahan ini bukan merupakan akhir kisah mereka, karena pertemuan mereka 7 tahun setelahnya diceritakan Torey pada novel lain yang berjudul, Kenangan yang Hilang..Nah,bagi yang penasaran, ayo beli novelnya dan jangan lupa.. ceritakan isinya nanti.. :p

Okeh, komentar saya, banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini dan bisa saya simpulkan, kesabaran adalah inti dalam mendidik mereka (anak-anak). Bagaimanapun mereka, apapun mereka, mereka masih seorang bocah yang belum mengerti apa-apa, belum mengerti mana yang salah dan mana yang benar. Lingkungan lah yang membentuk mereka.
Kejujuran juga sangat diperlukan ketika menjelaskan sesuatu. Dari novel tsb, saya tahu bagaimana Torey memberikan pengertian kepada Sheila dalam setiap komunikasinya, kebohongan adalah sesuatu yang harus dihindari. Si Torey juga sangat menghindari yang namanya kekerasan fisik ketika mereka berbuat salah. Ia akan berbicara secara personal kepada si anak kenapa dia berbuat seperti itu, lalu menjelaskan kenapa itu tidak boleh dilakukan. Ia selalu mengarahkan kepada setiap anak apa yang harus dilakukan jika mereka sedang emosi. Misalnya ketika Torey menyuruh Sheila agar duduk ke ‘kursi diam’ jika Sheila sedang emosi. Dan banyak lagi.. (Baca aje dah bagi yang mau punya anak :p )

Finally, dari novel itu, setidaknya saya belajar bagaimana saya harus bersikap dalam menghadapi sifat liar my little brother🙂


  1. dulu kayaknya aku pernah baca pas di asrama..
    dulu pinjam punya siapa ya? lupa…

    satu buku yang benar-benar aku sarankan di, to kill a mockingbird.. bener-bener buku yang bagus.. buku itu satu-satunya buku yang ditulis Harper Lee sepanjang hidupnya.. dan menang Pulitzer..

  2. iy rif.. sedang dibaca..
    Kalo gw awalnya liat karena coverny bagus.. :p

  3. pasti dong.. ^^
    Nanti kalo emang mantab tak posting ceritanya deh..
    (itu juga kalo kagak males.. :p )

  4. mmm…. kayana aye juga pernah baca deh.. ini yang anak2 autis ntu bukan sih?

    “to kill a mockingbird” ada yang mau pinjemin? hahaha

  5. hadi

    @Wabbit: kayaknya anda salah deh.. hehe.. To Kill a Mockingbird? bukannya lo punya ta? lu kan pengoleksi novel..

  6. yuhara_kira

    iyaa,, aku jg dah biz bcaa. . 2 bkunya ada ma z …

  7. Sarah

    novelnya memang bagus.
    aku juga banyak belajar dari novel itu




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: