“… katanya reformasi ternyata jual sapi.. lawan,lawan…”

begitu kira-kira ‘lagu’ yang diteriakkan teman2 kita (mahasiswa) kalo’ lagi demo.. Berbagai kejengkelan yang dirasakan oleh orang2 disekitar ‘para sang pahlawan’ tak jarang terlontar dari mulut mereka… seperti waktu itu,
lagi ‘asik2nya’ praktikum jarkom yang di’komandoi’ oleh Pak Heru, terdengar sekumpulan orang teriak2 ga’ jelas.. makin lama makin jelas… yah itulah (‘lirik’ yang di atas).. keluar deh komen dari saya (tapi dalam ati ), ” berisik banget!”
kemudian waktu itu,
seorang supir yang ternyata wanita diwawancarai oleh sebuah st.tv swasta (liat diTV) ditanya,”…(ga tau lupa)..” jawab sang wanita dengan nada ketus,” (begini kira2)..ya kalo emang mo demo jangan gini dong caranya! kita kan mo kerja, jadi telat nih!” (memang waktu itu demonya menyebabkan beberapa gangguan–dan memang akan terus seperti itu—, diantaranya macet.)
dll…(teman2 punya pengalaman ttg demo yg telah menggangu aktivitas anda, ceritain donkz)

Aneh, setiap ada kesalahan sedikit dari pemimpin langsung demo (ya ga langsung sih..), ada kejelekan, demo… ada yang ga cocok, demo… keputusannya dirasa kurang tepat, demo… dst. Ga cape y.. ada yang bilang membela rakyat kecil.. ada yang bilang ini nasehat ke pemimpin…ada yang bilang mencegah kemungkaran…bahkan ada yang men-klaim kalo’ itu jihad…Padahal itu kan sama aja membuka aib orang lain didepan umum..

Allah azza wa jalla Berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian.”
(QS. An Nisa’: 59)
kemudian rasulullah shollallahu’alaihi wasallam bersbda,
“Dari sahabat Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan menaati, baik dalam hal yang ia suka atau yang ia benci, kecuali kalau ia diperintahkan dengan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan menaati.’” (HR. Bukhori dan Muslim)

Jelas banget kan perintah Rabb kita dan suri tauladan kita..
Allah dan rasulnya lah yang lebih mengetahui kebaikan untuk umat manusia, oleh karena itu untuk mendapatkan kebaikan tsb, yaa ikuti perintah tsb..

Terus juga, setiap kali membaca biografi imam Ahmad bin Hambal (seorang imam mahdzab besar yang diakui oleh kaum muslimin), kita akan bertemu dengan sosok yang gigih dalam membela sifat-sifat Allah yang haq, meskipun beliau disiksa bertahun -tahun lamanya. Tidak gentar, tidak berpaling, dan tidak mengerahkan murid-muridnya untuk melawan penguasa, tetapi malah selalu mendoakan pemimpin (meski mereka amat sangat zalim sekali), sebagaimana beliau pernah berkata, “Sekiranya saya memiliki doa yang pasti terkabul, tentu doa itu kutujukan untuk pemimpin”.

Subhanallah.. itulah pernyataan pendahulu kita…

sedangkan klaim kalo demo itu bla..bla..bla, gini-gini, gitu-gitu… itu hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka… lebih enak tenang…siiing…damai…ga berisik… bisa tidur..zzzzz

terus menasihati pemimpin gmn dong caranya??” (tanya saya waktu itu )… saya cari kitab2 hadits dan buku2 para ulama yang telah diterjemahkan..

jawabnya, dengan cara 4 mata.. rasulullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Barangsiapa ingin menasihati penguasa dalam suatu perkara, maka janganlah ia menampakkan secara terang terangan. Akan tetapi hendaknya ia ia mengambil tangannya agar ia bisa berduaan. Jika ia terima ,aka itulah yamg diharap, jika tidak maka sungguh ia telah menunaikan tugas yang ada pada pundaknya”. [HR Ahmad dalam Al-Musnad (3/403-404) dan Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096, 1097, 1098). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Zhilal Al-Jannah (hal. 514)]

Trus kalo ga bisa, prosedurnya kan terlalu rumit untuk bertemu dengan mereka

berbuat sesuai keamampuan kita… rasulullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika tidak bisa, maka dengan lisannya dan bila tidak bisa maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)..

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini membagi manusia menjadi tiga golongan;

Golongan pertama, adalah orang-orang yang mampu untuk menghilangkan kemungkaran dengan tangannya (kekuatannya), yaitu pemerintah atau pemimpin atau yang diberi wewenang dalam hal ini, seperti lembaga-lembaga dan gubernur serta panglima.

Golongan kedua, orang-orang yang mengingkari dengan lisannya, yaitu yang tidak memiliki kekuasaan, tapi memiliki kemampuan untuk menjelaskan.

Dan golongan ketiga, orang-orang yang mengingkari kemungkaran dengan hatinya, yaitu mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menjelaskan.

Nah seandainya memang para pemimipin kita berbuat maksiat, lakukanlah sesuai kemampuan kita… Jangan demo yang bikin pusing orang-orang yang lagi tidur… berisik oi…




    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s



%d bloggers like this: